Pernahkah mendengar tentang sebuah pulau kecil seluas 160 kmยฒ yang pernah memiliki armada laut tangguh, melawan VOC Belanda, dan menghasilkan pala terbaik di dunia?
Pulau Siau, terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, menyimpan sejarah panjang yang jarang diketahui banyak orang Indonesia.
Sejak abad ke-13 melalui legenda rakyat, hingga berdirinya Kedatuan Siau pada 1510, pulau vulkanik di gugusan Kepulauan Sangihe ini pernah menjadi pusat kekuatan maritim yang disegani di perairan Nusantara bagian utara.
Nah, menariknya, kerajaan yang berdiri lebih dari 4 abad ini tercatat dalam berbagai literatur Eropa, mulai dari catatan pelaut Spanyol, arsip Portugis, hingga dokumen VOC Belanda.
Banyak yang belum tahu bahwa Siau juga merupakan salah satu kerajaan bercorak Kristen tertua di Nusantara, berdasarkan catatan sejarawan Pitres Sombowadile dan literatur D. Brilman dalam “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi-en Talaud-eilanden”.
Untuk mengenal lebih dalam perjalanan sejarah pulau istimewa ini dari masa ke masa, simak penjelasan lengkap dari dispsiau.org berikut ini.
Asal-Usul Nama Pulau Siau dan Legenda Ake Sio

Sebelum membahas sejarah kerajaannya, ada baiknya mengenal dulu bagaimana nama “Siau” muncul. Ternyata, terdapat beberapa versi yang berkembang di tengah masyarakat maupun catatan sejarawan.
Salah satu legenda paling populer bermula dari abad ke-13. Dikisahkan pasangan Lumimuut dan Oar memiliki keturunan bernama Mina Esa, yang kemudian menikah dengan seorang Kastilani bernama Makisemba. Pasangan ini berlayar ke utara Sulawesi dan menemukan sebuah pulau yang dinamai Sawang, sebagai pengingat tanah asal mereka, Onsawang.
Saat menjelajahi pedalaman pulau tersebut, mereka menemukan sembilan kolam mata air yang dalam bahasa daerah disebut “Ake Sio.” Lokasi sembilan kolam itu hingga saat ini masih ada di daerah Pamua/Ukadeng, Desa Beong, Kecamatan Siau Tengah.
Versi lain datang dari kisah seorang nakhoda yang berlayar berminggu-minggu. Ketika melihat daratan penuh pohon nyiur, sang nakhoda berucap “Oh sio” (artinya “oh kasihan”) sambil menyapu dadanya. Dari situlah kata “Siau” konon mulai dikenal.
Jadi, versi mana yang paling akurat? Sejarawan asal Siau, HB Elias, meyakini bahwa nama “Siau” sudah ada sebelum pelaut Eropa datang, meskipun pencatatan tertulis baru muncul pada abad ke-16 melalui jurnal pelayaran Spanyol.
Berdirinya Kedatuan Siau oleh Lokongbanua II (1510)
Sejarah politik Pulau Siau secara resmi dimulai pada tahun 1510. Pada tahun itu, Lokongbanua II mendirikan Kedatuan Siau melalui musyawarah mufakat para kolano (raja-raja kecil) di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.
Lokongbanua II memerintah selama 35 tahun (1510-1545) dengan pusat pemerintahan di Paseng. Meski wilayahnya hanya seluas sekitar 100 kmยฒ, kedatuan ini mendapat pengakuan dari kesultanan di Maluku, kedatuan-kedatuan di Sangihe, hingga Mindanao, Filipina.
Kontak pertama dengan bangsa Eropa terjadi pada April 1516, tepat di hari Paskah. Pelaut Spanyol dan Portugis masuk ke Siau untuk merayakan Misa Paskah di darat dan diterima langsung oleh Lokongbanua. Dua tahun kemudian, pada 1518, sang datu menyetujui pembangunan dua benteng, yakni Benteng Gurita di Ondong dan Benteng Santa Rosa di Lalento, yang berfungsi menampung hasil bumi berupa pala, cengkeh, dan kelapa.
Singkatnya, sejak berdiri, Kedatuan Siau sudah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan Sulawesi, Maluku, dan Filipina Selatan.
Masa Kolonial: Dari Portugis dan Spanyol Hingga VOC Belanda
Posisi strategis Pulau Siau di antara jalur perdagangan Maluku dan Filipina membuatnya menjadi rebutan tiga kekuatan Eropa. Portugis, Spanyol, dan Belanda, semuanya punya kepentingan terhadap pulau penghasil rempah ini.
Aliansi Siau dengan Spanyol (1581-1677)
Kontak pertama Siau dengan Portugis terjadi pada masa pemerintahan Raja Posumah (raja kedua). Portugis yang khawatir terhadap pengaruh Islam dari Ternate segera mengirim misi Katolik ke Siau di bawah pimpinan Diogo de Magelhaes. Raja Posumah pun dibaptis dengan nama Don Jeronimo.
Namun, ketika Ternate semakin mengancam dan Portugis tidak bisa diandalkan, Siau mulai menjalin hubungan diplomatik dengan Spanyol. Dilansir dari Tirto.id, pada 1593, Raja Siau ketiga Don Jeronimo Winsulangi pergi ke Manila untuk meminta bantuan militer Spanyol.
Aliansi ini bukan tanpa alasan. Siau yang sudah Katolik merasa lebih nyaman dengan Spanyol yang juga Katolik, dibanding Belanda yang Protestan dan sempat bersekutu dengan Ternate. Sejak itu, dua benteng di Pulau Siau dijaga langsung oleh bala tentara Spanyol.
Kejayaan militer Kerajaan Siau dicapai di bawah Raja Batahi (1639-1678) dan Laksamana Hengkengunaung. Armada laut Siau bahkan pernah meraih kemenangan bersama Kerajaan Gowa dalam perang laut melawan Arung Palakka dari Kerajaan Bone pada 1660.
Perang Batahi dan Perjanjian Lange Contract 1677
Tahun 1677 menjadi titik balik bagi Kerajaan Siau. VOC Belanda bersama Kesultanan Ternate mengerahkan puluhan kapal besar untuk menyerang Siau. Pertempuran dahsyat pun pecah di perairan dan daratan pulau ini.
Armada maritim Siau di bawah Laksamana Hengkengunaung berusaha membendung serangan dari laut, namun kekuatan meriam Belanda terlalu besar. Pertempuran berlanjut ke daratan hingga benteng-benteng Spanyol dilumpuhkan.
Pada 9 November 1677, Raja Franciscus Xaverius Batahi terpaksa menandatangani perjanjian lange contract dengan VOC. Salah satu pasal terpenting dalam perjanjian itu adalah keharusan Kerajaan Siau beralih dari Katolik ke Kristen Protestan Belanda. Raja Raramenusa, pengganti Batahi, menjadi raja pertama yang memeluk Protestan.
Kerajaan Siau di Era Pergerakan Nasional dan Kemerdekaan
Meskipun berada di bawah pengaruh Belanda, Kerajaan Siau tidak sepenuhnya tunduk. Pada 1789, Raja Begandelu memimpin pemberontakan yang berakhir dengan penghancuran ibu kota Paseng.
Di era Politik Etis awal abad ke-20, berdasarkan catatan Bambang Suwondo dalam “Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara,” Kerajaan Siau mendapat subsidi untuk pembangunan sekolah dan penguatan militer. Raja Lodewijk Nicolaas Kansil bahkan disebut memiliki kaitan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Semangat kemerdekaan di Siau makin membara setelah kedatangan tokoh pergerakan J.B. Dauhan, yang dekat dengan Soekarno. Sayangnya, Dauhan meninggal di tangan Belanda setelah ketahuan mengadakan pertemuan untuk membangkitkan semangat kemerdekaan.
Setelah proklamasi 1945, Kerajaan Siau mulai dihuni kaum pro-republik. Riwayat kerajaan yang bertahan lebih dari 4 abad ini resmi berakhir pada 1956, dengan raja terakhir Ch. David.
Gunung Karangetang, Ikon Abadi Pulau Siau
Tidak mungkin membahas Pulau Siau tanpa menyebut Gunung Karangetang, atau yang dikenal penduduk lokal sebagai Api Siau. Gunung bertipe stratovulkano ini menjulang setinggi 1.827 mdpl dan memiliki lima kawah aktif.
Gunung Karangetang tercatat sebagai salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia dengan lebih dari 40 kali letusan sejak 1675. Pada Juni 2025, status gunung ini dinaikkan ke Level II (Waspada) oleh PVMBG berdasarkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Nah, yang unik adalah hubungan masyarakat Siau dengan gunung ini. Erupsi justru dianggap berkah karena material vulkanik menyuburkan lahan pertanian, terutama tanaman pala. Penduduk lokal bahkan khawatir jika Karangetang lama tidak “batuk,” karena sekali meletus dalam kondisi tersebut bisa berakibat fatal.
Wisatawan Eropa, khususnya dari Prancis, memasukkan Pulau Siau dalam destinasi perjalanan mereka semata-mata untuk mendaki Karangetang. Beberapa titik terbaik untuk menikmati pemandangan gunung ini antara lain Kampung Sawang, pantai Biau, dan Balirangeng.
Pala Siau dan Kekayaan Alam yang Mendunia
Siau tersohor sebagai penghasil pala berkualitas nomor satu di dunia. Rahasia kualitasnya terletak pada debu vulkanik Gunung Karangetang yang menjadi pupuk alami bagi lahan perkebunan di lereng-lereng pulau ini.
Produksi pala Sitaro pada 2007 mencapai 1,66 juta ton dari lahan sekitar 3.000 hektare, berdasarkan data Kabupaten Sitaro dan dapat berubah sesuai kondisi terkini. Tanaman pala bahkan tumbuh hingga mendekati puncak Karangetang, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain.
Selain pala, ekspor perikanan laut Sitaro mencapai sekitar 6.000 ton per tahun, meskipun pemanfaatannya masih berskala tradisional. Pulau ini juga menjadi habitat tarsius Siau (Tarsius tumpara), primata endemik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dan wisatawan.
Kabupaten Sitaro, Wajah Modern Pulau Siau Saat Ini
Secara administratif, Pulau Siau kini menjadi bagian dari Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2007. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, dengan ibukota di Ondong Siau.
Berikut profil ringkas Kabupaten Sitaro saat ini.
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Dasar Hukum Pembentukan | UU No. 15 Tahun 2007 |
| Tanggal Peresmian | 23 Mei 2007 |
| Ibukota | Ondong Siau |
| Provinsi | Sulawesi Utara |
| Jumlah Penduduk (2024) | ยฑ 70.723 jiwa |
| Luas Wilayah | 275,86 kmยฒ |
| Jumlah Kecamatan | 10 kecamatan |
| Komoditas Unggulan | Pala (kualitas terbaik dunia) |
| Gunung Berapi Aktif | Karangetang (1.827 mdpl) dan Ruang |
Data di atas berdasarkan informasi resmi Pemerintah Kabupaten Sitaro dan BPS Sulawesi Utara, serta dapat berubah sesuai pembaruan data terkini.
Pada Januari 2026, Kabupaten Sitaro menghadapi bencana banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 11 orang dan 5 orang dilaporkan hilang. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di pulau vulkanik selalu berdampingan dengan tantangan alam.
Kontak Resmi dan Informasi Layanan Kabupaten Sitaro
Bagi yang ingin mendapatkan informasi resmi seputar Kabupaten Kepulauan Sitaro, berikut kanal yang dapat dihubungi.
- Website Resmi Pemkab Sitaro: sitarokab.go.id
- BPK RI Perwakilan Sulawesi Utara: Jalan 17 Agustus No. 4, Manado
- PVMBG (Pos Pengamatan Gunung Karangetang): untuk informasi status aktivitas vulkanik terkini
- BPBD Kabupaten Sitaro: untuk informasi kebencanaan dan evakuasi
Selalu pastikan mengakses informasi dari sumber resmi pemerintah untuk menghindari hoaks atau berita yang tidak akurat, terutama terkait status gunung berapi dan informasi kebencanaan.
Penutup
Perjalanan sejarah Pulau Siau membuktikan bahwa sebuah pulau kecil di ujung utara Indonesia bisa memiliki peran besar dalam dinamika Nusantara. Dari kedatuan yang didirikan Lokongbanua II pada 1510, melewati pergolakan kolonial Portugis, Spanyol, dan VOC Belanda, hingga menjadi Kabupaten Sitaro yang modern, Siau terus bertahan dengan identitasnya yang khas.
Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, literatur akademik, dan data resmi pemerintah. Informasi terkait data kependudukan, status gunung berapi, dan angka produksi dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan dan kondisi terkini. Pembaca disarankan untuk selalu melakukan verifikasi melalui sumber resmi seperti sitarokab.go.id, PVMBG, dan BPS Provinsi Sulawesi Utara.
Terima kasih sudah membaca hingga akhir. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan tentang kekayaan sejarah Indonesia yang belum banyak terekspos. Semoga Pulau Siau dan masyarakatnya selalu diberkahi keselamatan serta kemakmuran.
Pulau Siau terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, pada koordinat 02ยฐ45’00” LU dan 125ยฐ23’59” BT. Pulau ini berada di gugusan Kepulauan Sangihe, sekitar 130 km dari ujung utara daratan Sulawesi di Laut Sulawesi.
Kerajaan Siau didirikan pada tahun 1510 oleh Lokongbanua II melalui musyawarah mufakat para kolano (raja-raja kecil). Kerajaan ini bertahan lebih dari 4 abad dan berakhir pada 1956 dengan raja terakhir Ch. David.
Kualitas pala Siau yang istimewa disebabkan oleh tanah vulkanik dari Gunung Karangetang. Debu vulkanik yang dihasilkan erupsi menjadi pupuk alami yang menyuburkan lahan perkebunan pala di lereng-lereng pulau ini, menghasilkan aroma dan kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibanding daerah lain.
Ya, Gunung Karangetang (Api Siau) masih sangat aktif. Pada Juni 2025, statusnya dinaikkan ke Level II (Waspada) oleh PVMBG. Gunung ini tercatat telah meletus lebih dari 40 kali sejak 1675 dan memiliki lima kawah aktif di puncaknya.
Kerajaan Siau menjalin aliansi militer dengan Spanyol sejak 1581 untuk melawan ancaman Ternate dan Belanda. Aliansi ini berakhir pada 1677 ketika VOC bersama Ternate berhasil menundukkan Siau. Raja Batahi dipaksa menandatangani perjanjian Lange Contract yang mengharuskan kerajaan beralih dari Katolik ke Protestan Belanda.
Felix Winata adalah Penulis di Dispsiau.org yang meliput berita pemerintahan dan pembangunan daerah. Ia menyajikan informasi kebijakan publik yang mudah dipahami masyarakat.








