Pernah dengar tentang kerajaan Kristen tertua di bagian utara Nusantara? Bukan di Jawa, bukan pula di Sumatera. Kerajaan itu justru berdiri di sebuah pulau kecil di Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara.
Kerajaan Siau didirikan oleh Lokongbanua II pada tahun 1510 melalui musyawarah para kulano di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Selama lebih dari 4 abad, kerajaan bercorak Kristen ini dipimpin secara beruntun oleh 21 raja sebelum akhirnya berakhir pada 1956 di masa Ch. David.
Banyak yang belum tahu bahwa kerajaan kecil ini pernah memiliki armada laut tangguh, wilayah kekuasaan luas sampai Teluk Manado, dan mengalami pergolakan agama dari Katolik ke Protestan akibat campur tangan VOC Belanda. Artikel ini disusun berdasarkan catatan sejarah dari Wikipedia Indonesia, literatur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta berbagai sumber sejarah Sulawesi Utara yang tersedia.
Untuk mengenal lebih dalam siapa saja 21 raja yang pernah memimpin beserta perjalanan sejarah Kerajaan Siau selama 4 abad, simak penjelasan lengkap dari dispsiau.org berikut ini.
Bagaimana Kerajaan Siau Berdiri di Tahun 1510?

Sebelum membahas daftar raja-rajanya, penting untuk memahami dulu bagaimana kerajaan ini terbentuk di sebuah pulau kecil nan strategis di utara Sulawesi.
Peran Lokongbanua II dan Musyawarah Para Kulano
Sejak abad ke-15, Pulau Siau sudah dihuni oleh beberapa kelompok keluarga yang disebut balageng. Setiap balageng membentuk koloni dan mengatur kehidupan secara mandiri di bawah pimpinan seorang kulano, atau raja kecil.
Lokongbanua II merupakan putra dari Pahawonsuluge, seorang kulano di Pehe, dan Puteri Ombunduata dari Kerajaan Bowongkehu yang berkedudukan di Pulau Manado Tua. Kerajaan Bowongkehu sendiri sudah eksis sejak tahun 1400 dan menjadi salah satu kerajaan tertua di jazirah utara Sulawesi.
Setelah dewasa, Lokongbanua II berlayar ke Pulau Siau untuk mencari ayahnya dan akhirnya menetap di sana. Pada tahun 1510, ia berhasil mempersatukan para kulano melalui musyawarah mufakat.
Hasil kesepakatan itu menjadikan Lokongbanua II sebagai raja pertama Kerajaan Siau. Ibukota kerajaan berkedudukan di Paseng, dan Lokongbanua II memerintah hingga tahun 1549.
Daftar Urutan 21 Raja Kerajaan Siau Beserta Tahun Menjabat
Kerajaan Siau tercatat dipimpin oleh 21 raja secara beruntun selama kurang lebih 446 tahun. Berikut daftar lengkapnya berdasarkan berbagai sumber sejarah.
| No | Nama Raja | Nama Baptis/Alias | Tahun Menjabat |
|---|---|---|---|
| 1 | Lokongbanua II | โ | 1510โ1549 |
| 2 | Posuma (Pasumah) | โ | 1549โ1587 |
| 3 | Wuisang | โ | 1587โ1591 |
| 4 | Winsulangi | Don Geronimo | 1591โ1631 |
| 5 | Batahi | Don Fransiscus Xavirius | 1631โ1678 |
| 6 | Monasehiwu | โ | 1678โ1680 |
| 7 | Raramenusa | Hendrik Daniel Yacobus | 1680โ1716 |
| 8 | Lohintundali | David Yacobus | 1716โ1752 |
| 9 | Ismael Yacobus | โ | 1752โ1788 |
| 10 | Begandelu | โ | 1788โ1790 |
| 11 | Umboliwutang | Egenos Yacobus | 1790โ1821 |
| 12 | Paparang | โ | 1822โ1838 |
| 13 | Nicolas Ponto | โ | 1839โ1850 |
| 14 | Jacob Ponto | โ | 1850โ1889 |
| 15 | Lamuel David | โ | 1890โ1895 |
| 16 | Manalang Dulag Kansil | โ | 1895โ1908 |
| 17 | AJ Mohede | โ | 1908โ1913 |
| 18 | AJK Bogar | โ | 1913โ1918 |
| 19 | Lodewyk Nicolas Kansil | โ | 1920โ1929 |
| 20 | Aling Yanis | โ | 1930โ1935 |
| 21 | PF Parengkuan | โ | 1936โ1945 |
Perlu dicatat bahwa beberapa sumber, termasuk Wikipedia Indonesia, menyebutkan Ch. David sebagai raja terakhir yang mengakhiri riwayat kerajaan pada 1956. Namun sumber lain mencatat Ch. David sebagai “Presiden Pengganti Raja” atau figur transisi pasca raja ke-21 PF Parengkuan. Data ini dapat berbeda antarreferensi dan masih menjadi bahan diskusi para sejarawan Sulawesi Utara.
Raja-Raja Bergelar Don: Pengaruh Katolik Portugis
Pada tahun 1516, misi Katolik Portugis singgah di ibukota Paseng dan menyelenggarakan Misa Paskah yang dihadiri Raja Lokongbanua II. Nah, momen inilah yang menjadi awal persentuhan Kerajaan Siau dengan agama Kristen.
Raja Posuma (raja ke-2) tercatat sebagai raja pertama yang resmi dibaptis Katolik pada 1563 oleh paderi Diego de Magelhaes dari Kesultanan Ternate. Setelah itu, beberapa raja berikutnya menyandang gelar “Don” sebagai tanda pengaruh Katolik Portugis, seperti Don Geronimo Winsulangi (raja ke-4) dan Don Fransiscus Xavirius Batahi (raja ke-5).
Menariknya, misi Katolik itu dikirim Portugis untuk mendahului kedatangan rombongan Sultan Khairun dari Kerajaan Ternate yang hendak menyebarkan Islam ke Sulawesi Utara. Jadi, masuknya Katolik ke Siau juga punya dimensi geopolitik yang kuat pada masanya.
Raja-Raja Bergelar Yacobus: Era Protestan Belanda
Perubahan besar terjadi pada 1677 ketika VOC berhasil menduduki Siau dan mengusir Spanyol. Perjanjian lange contract ditandatangani pada 9 November 1677, di mana Kerajaan Siau resmi mengakui kekuasaan Belanda.
Salah satu konsekuensi penting dari perjanjian itu adalah beralihnya agama kerajaan dari Katolik ke Kristen Protestan. Raja Raramenusa (raja ke-7) menjadi raja pertama Siau yang memeluk Protestan.
Sejak era ini, banyak raja Siau menyandang nama keluarga “Yacobus” sebagai penanda identitas Protestan. Contohnya Hendrik Daniel Yacobus (Raramenusa), David Yacobus (Lohintundali), Ismael Yacobus (raja ke-9), dan Egenos Yacobus (Umboliwutang).
Masa Kejayaan Kerajaan Siau di Abad ke-17
Sebelum VOC menundukkan Siau, kerajaan ini sempat mencapai puncak kejayaannya. Dua bidang yang paling menonjol adalah perluasan wilayah dan kekuatan armada laut.
Perluasan Wilayah sampai Teluk Manado dan Bolaang Mongondow
Di masa pemerintahan Raja Don Geronimo Winsulangi sampai Raja Don Fransiscus Xavirius Batahi, wilayah Kerajaan Siau meluas drastis. Kekuasaannya mencakup bagian selatan Sangihe, Pulau Kabaruan (Talaud), Pulau Tagulandang, pulau-pulau di Teluk Manado, pesisir Minahasa Utara, hingga wilayah Kerajaan Bolangitang atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara) dan Leok Buol.
Jadi, Kerajaan Siau bukan sekadar kerajaan pulau kecil. Pada masa jayanya, kerajaan ini menguasai wilayah yang sangat luas di kawasan utara Sulawesi dan sekitarnya.
Armada Laut Besar di Bawah Laksamana Hengkengunaung
Ekspansi wilayah itu tidak mungkin terjadi tanpa kekuatan militer yang kuat. Berdasarkan buku “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau” karya Max S. Kaghoo (Kanisius, 2016), pembangunan dan modernisasi besar-besaran armada angkatan laut Kerajaan Siau dilakukan pada tahun 1612.
Laksamana Hengkengunaung diangkat oleh Raja Don Geronimo Winsulangi sebagai panglima perang. Di bawah kepemimpinannya, armada laut Siau memenangkan sejumlah pertempuran laut di kawasan timur Nusantara dan menjadi kekuatan maritim yang disegani di wilayah Sangihe Talaud.
Keruntuhan Kerajaan Siau Setelah Proklamasi 1945
Setelah perjanjian 1677, Kerajaan Siau praktis berada di bawah kendali VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda. Kebebasan raja-raja Siau untuk berpolitik sangat terbatas karena pengawasan ketat dari pihak kolonial.
Semangat kemerdekaan baru muncul setelah kedatangan J.B. Dauhan, seorang tokoh pergerakan nasional yang dekat dengan Soekarno. Sayangnya, J.B. Dauhan akhirnya tewas di tangan Belanda setelah ketahuan mengadakan pertemuan untuk membangkitkan semangat kemerdekaan rakyat Siau.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, kaum pro-republik semakin dominan di Kerajaan Siau. Kerajaan secara perlahan kehilangan fungsinya dalam sistem pemerintahan baru Republik Indonesia, dan riwayatnya resmi berakhir pada tahun 1956.
Peninggalan Bersejarah: Kompleks Makam Raja Lokongbanua
Salah satu warisan paling penting dari Kerajaan Siau yang masih bisa ditemukan hingga saat ini adalah Kompleks Makam Raja Lokongbanua. Situs ini menjadi bukti fisik eksistensi kerajaan selama lebih dari 4 abad di Pulau Siau.
Selain itu, makam Laksamana Hengkengunaung juga masih terjaga di Kampung Kiawang, Kecamatan Siau Barat Utara. Masyarakat setempat melindungi situs-situs bersejarah ini sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur mereka.
Sumber Informasi Terpercaya dan Kontak Resmi Seputar Sejarah Kerajaan Siau
Data sejarah Kerajaan Siau tersebar di berbagai sumber dengan beberapa perbedaan versi. Untuk menghindari informasi yang tidak akurat, berikut beberapa referensi dan kontak resmi yang bisa dijadikan acuan:
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sitaro, melalui situs resmi pemerintah daerah sitarokab.go.id
- Buku referensi utama: “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau” oleh Max S. Kaghoo, diterbitkan PT. Kanisius (2016)
- Literatur akademik: “Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara” (Depdikbud, 1979) dan “Sejarah Daerah Sulawesi Utara” (Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1982)
- Ensiklopedi: “Ensiklopedi Kerajaan-Kerajaan Nusantara” oleh Ivan Taniputera (Ar-Ruzz Media, 2017)
Jika ingin mengunjungi Kompleks Makam Raja Lokongbanua atau situs bersejarah lainnya di Pulau Siau, disarankan menghubungi pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai akses dan kondisi lokasi.
Penutup
Kerajaan Siau merupakan salah satu kerajaan bercorak Kristen tertua di Nusantara bagian utara yang bertahan selama lebih dari 4 abad. Dari Lokongbanua II pada 1510 hingga berakhirnya era kerajaan pada 1956, perjalanan 21 raja Siau mencerminkan dinamika politik, agama, dan kolonialisme di kawasan Sulawesi Utara.
Seluruh data dan informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah yang tersedia, termasuk literatur akademik dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta catatan para sejarawan Sulawesi Utara. Beberapa data seperti urutan raja dan tahun pemerintahan dapat berbeda antarreferensi, sehingga disarankan untuk selalu merujuk pada sumber resmi dan penelitian terbaru dari instansi terkait.
Terima kasih sudah membaca. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan tentang kekayaan sejarah Nusantara yang belum banyak terekspos.
Hadiyansyah adalah Penulis di Dispsiau.org yang meliput berita ekonomi dan perkembangan UMKM di Pulau Siau. Ia fokus mengangkat kisah pelaku usaha lokal.









